Pages

Friday, 3 January 2014

Cerpen (Admin J)



Hai guys, kali ini gue bakalan bikin cerpen yg berbeda dari biasanya (biasanya kan tentang jomblo, kan?). Oh iya cerpen ini request dari sahabat gue DN (nama disamarkan). So, salam jomblo dan silahkan membacaa ^^

Cordoba, 21 juli 2003

“hoaaammm, jam berapa sih ini? Matahari kok udah panas banget” keluh Faidz. Faidz mendapat beasiswa bersekolah di sebuah Universitas di Cordoba, prestasinya di bidang bahasa sangat menjanjikan dia untuk mendapat beasiswa hingga wisuda nanti. Seperti biasa, dia mengawali paginya dengan sholat shubuh. Perbedaan waktu di Cordoba dengan di Indonesia membuatnya agak bingung membedakan waktu sholat, tapi akhirnya dia bisa membiasakan dirinya. Di Cordoba Ia tidak sendirian, Ia bersama sahabatnya Aisyah. Aisyah ini mendapat beasiswa yg sama dengan Faidz, mereka berdua sudah bersahabat sejak di bangku SMP. Aisyah adalah seorang yatim piatu, tekad dia untuk meneruskan cita-citanya di Hubungan Internasional sangat kuat, Faidz pun sering membantu dia jika ada kesulitan yg dia enggak mampu mengatasinya. Selain itu Aisyah sangat kuat imannya, dia juga sudah mulai berhijab sejak kelas 2 SMA. Dia mengatakan bahwa seorang muslimah sejati adalah muslimah yg menjaga seluruh auratnya dari lelaki yg bukan muhrimnya.
“assalamualaikum, Aisyah? Ini gue Faidz. Nanti bareng yuk ke kampusnya?” kata Faidz dari seberang telfon. “waalaikumsalam, oke. Nanti aku tunggu di depan café langganan kita ya Idz.” Jawab Aisyah dengan lembut (bentar, emang ada café disana yak? Capcus deh). Aisyah tiba lebih dulu dari Faidz, sudah menjadi kebiasaan Faidz yg suka telat dalam hal apapun. “hah, hah, hah. Maaf ya Aisyah, tadi dompet gue sempat ilang, gataunya ada di tas kuliah gue.” Kata Faidz sambil terengah-engah. “hahaha, iya nggak apa-apa kok Idz. Kamu kan emang hobinya telat dan teledor.” Ejek Aisyah yg sedang meminum capucino kesukaannya. “eh, eh ko gue nggak di pesenin sih? Udah tau gue abis lari maraton” kata Faidz yg sedang mengelap keringatnya dan menyenderkan kepalanya ke bangku café. “ih lebay amat, hahaha. Udah aku pesenin kok. Tunggu aja, jadi seorang Islam itu harus sabar.” Kata Aisya setengah menasehati.

Setelah 15 menit mereka mengobrol, mereka pun langsung beranjak pergi ke kampus. Di kereta pun mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan canda tawa, sungguh mereka dua sahabat yg tidak mungkin dipisahkan. Tanpa terasa mereka pun tiba di kampus mereka, Faidz langsung menuju ke kelasnya begitu juga dengan Aisyah. “cieee yg tadi bareng Aisyah, lu apain tuh anak orang?” goda Axel, dia juga salah satu murid dari Indonesia yg mendapat beasiswa di kampus ini. “hah? Ettt, gue gak apa-apain kali. Gue sama dia udah sahabatan dari SMP. Lu jangan asal nuduh yg enggak-enggak anak edan” ejek Faidz. “gapake anak edan berapa sih Idz?” keluh Axel. “hahahaha, canda Xel. Makanya jangan asal ngomong lain kali” kata Faidz sambil merangkul pundak temannya itu. Faidz dan Axel satu jurusan, jadi hanya mereka berdua di kelas yg asalnya dari Indonesia. Tapi itu nggak buat mereka jadi merasa dikucilkan. “bro? kalo lu nggak buru-buru bisa kepepet loh bro” bisik Axel. “maksud lu? Kepepet Mr. Perkov?” kata Faidz yg setengah berbisik juga. “lu homo? Maksud gue Aisyah bro, gue tau lu suka sama Aisyah kan? Ngaku aja deh.” Goda Axel. “diem deh anak edan, kita lagi belajar nih bukan di kantin.” Tukas Faidz. “dibilang jangan pake anak edan, dasar wedhus” ejek Axel sambil memukul kepala Faidz dengan buku yg digulungnya. “sakit edan!” kata Faidz sambil meringis. “quiet please!” bentak Mr. Perkov kepada mereka berdua.

Cordoba, 22 juli 2003

Hari ini adalah hari kelulusan mereka, Aisyah sebagai mahasiswa teladan di kampus ini diberikan kesempatan untuk berpidato sebelum acara wisuda dimulai. “Aisyah, lu udah siap emangnya buat pidato?” Tanya Faidz. “InsyaAllah aku siap Idz” jawab Aisyah dengan senyum. Muka Faidz memerah, dia tak sanggup melihat senyum Aisyah yg meluluhkan hatinya itu, sesaat Ia salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yg tidak gatal. “yaudah gue samperin si Axel dulu ya, katanya dia lagi beli minum” kata Faidz sambil melambaikan tangan ke Aisyah. “oh, iya.” Kata Aisyah sambil tersenyum.

Sial, senyumnya Aisyah bikin gue klepek-klepek

“woy! Lagi ngelonjor yak lu?” goda Axel sambil mendorong pundak Faidz yg membuat lamunannya terhenti (ngelonjor : ngelamun jorok). “apaansih lu, mana minum gue?” tukas Faidz. “nih, minuman kesukaan lu, capucino. Bukannya Aisyah juga suka capucino ya?” Tanya Faidz sambil menyodorkan secangkir capucino. “kan kepo banget sih lu.” Jawab Faidz sambil memalingkan wajahnya. “eh cepetan, si Aisyah udah naik ke panggung tuh dia mau pidato kan?” kata Axel. “oh iya, yuk ah” ajak Faidz. Pidato Aisyah pun dimulai, suasana berlangsung sangat tenang hingga Aisyah menyelesaikan pidatonya. Tibalah pada acara terakhir, pemberian sertifikat mahasiswa terbaik, Aisyah yg pertama berjabat tangan dengan kepala dosen di kampus itu. Suasana haru pun menyelimuti hari itu, tangis bahagia dari orang tua dan mahasiswa yg lulus. Rasanya ingin hari itu tidak berakhir, setelah penantian panjang mereka akhirnya mereka bisa lulus dengan nilai yg cukup memuaskan.

Di lantai teratas kampus, Aisyah dan Faidz sedang mengobrol. “Aisyah? Gu-gue… gue mau ngomong sesuatu sama lu.” Kata Faidz gugup. Dia merasa sekaranglah saat yg tepat untuk mengutarakan perasaannya. “iya, kamu mau ngomong apa Idz?” Tanya Aisyah dengan lembut.

Tuhkan, senyumnya ituuuuuu……

“hei Idz, kamu mau ngomong apa ko malah ngeliatin aku aja?” Tanya Aisyah yg menghentikan gurauan Faidz yg sedari tadi menatapi dirinya. “eh iya maaf, gini… kita kan kenal udah dari SMP. Terusss…” kata Faidz. “terus apa?” Tanya Aisyah. “gu-guee… gue suka sama lu, gue mau hubungan kita nggak sebatas sahabat aja tapi gue mau kenal lu lebih jauh lagi Aisyah.” Jelas Faidz sambil menahan nafas menunggu jawaban apa yg keuar dari mulut seorang Aisyah. “maaf Idz, jadilah muslim sejati. Barulah aku mau jadi bagian hidup kamu. Untuk saat ini aku nggak bisa.” Jawab Aisyah dengan wajah datar dan senyum yg agak memaksakan. “i-iya gapapa ko, gue janji kalo gue bisa jadi seorang muslim sejati.” Kata Faidz dengan lantang. Aisyah hanya bisa menatap Faidz sambil memegang dadanya yg sesak, seperti menahan sakit yg sangat besar.

Viena, 22 desember 2003

Sudah 5 bulan sejak wisuda itu, Faidz yg kini seorang penulis sudah mulai merubah pola hidupnya. Dia kini lebih mengetahui kapan saja waktu sholat tanpa harus mencari tahu kemana-mana. Jalan sebagai seorang penulis dia tempuh karena menurut dia itulah pekerjaan yg tidak begitu merepotkan, dan cukup ringan untuk dia kerjakan. Setiap selesai sholat fardhu dia selalu menyempatkan dirinya untuk membaca Al-qur’an. Bahkan di kantornya pun jika ada waktu senggang dia sudah dipastikan akan membaca Al-qur’an. “sudah 5 bulan Aisyah, apa kabarmu di Cordoba? Insyaallah aku sudah menjadi muslim sejati seperti yg kau inginkan” kata Faidz kepada dirinya sendiri.

Cordoba, 22 desember 2003

Disebuah apartemen yg cukup bagus, Aisyah tinggal bersama temannya Husni. “Hai Aisyah, apa kabarmu?” sapa temannya, Husni yg baru saja pulang dari pasar. “Alhamdulillah aku baik Husni.” Jawab Aisyah. Husni adalah teman kerja Aisyah di hubungan internasional. Husni adalah seorang muslimah, dia belajar berhijab dari Aisyah sejak 1 bulan yg lalu. “so Aisyah, bagaimana kabar lelaki yg pernah kamu bicarakan itu? Faidz kan namanya?” Tanya Husni. “aku juga enggak tau Ni, tapi mudah-mudahan saja dia enggak apa-apa. Aku juga yakin dia sudah berubah.” Jawab Aisyah dengan tenang. “hahaha, seyakin itu sama Faidz. Jangan-jang…” Husni tidak melanjutkan perkataannya, dia melihat Aisyah terjatuh dari kursinya. “Aisyah, kamu kenapa?! Ayo aku bawa kamu ke klinik!” ajak Husni dengan panik. “ak-aku gapapa Husni sayang, nanti aku juga sembuh ko” jawab Aisyah dengan wajah pucat. Aisyah meminta Husni untuk mengambilkan sesuatu di lemarinya, ternyata itu adalah obat. Husni bingung dan baru pertama kali Ia melihat temannya itu meminum obat, dia tidak pernah tau Aisyah sakit apa.

“Ni, tolong jangan kasih tau Faidz ya. Suatu saat nanti dia pasti datang buat nyari aku.” Pinta Aisyah dengan senyum yg lembut. Husni paham arti senyumannya itu, itu bukan senyuman bahagia. Tapi senyuman kesedihan.

Cordoba, 30 desember 2003

“Alhamdulillah, aku sampai juga di Cordoba. Aku kangen banget sama kota ini, disini aku kuliah dan wisuda. Oke, sekarang aku harus mencari Aisyah. Untung aja aku dapet alamat apartemennya dari Axel.” Kata Faidz sambil menenteng kopernya. Axel sekarang sudah menjadi pengacara, dia juga meneruskan perusahaan ayahnya di Cordoba. Tapi berhubung dia sedang di Paris jadi tidak bisa bertemu dengan Faidz, dia hanya meminta untuk menyampaikan salamnya kepada Aisyah. Tak begitu lama waktu berselang, akhirnya Faidz sampai di depan apartemen milik Aisyah. “hhhmmm… kamarnya di lantai 5, nomor 29. Okedeh, bismillahirrahmanirrahim.” Kata Faidz sambil menaiki tangga, dia lebih memeilih menaiki tangga daripada lift karena menurutnya itu lebih menyehatkan. Tok.. Tok… Tok…. Terdengar suara pintu diketuk dari luar. “siapa ya?” Tanya Aisyah dari dalam. “Assalamualaikum, saya Faidz.” Jawab Faidz. Aisyah pun langsung membukakan pintu untuknya, Faidz sangat senang bisa bertemu dengan sahabatnya lagi begitupun Aisyah. “masuk Idz, silahkan duduk maaf agak berantakan ya” kata Aisyah mempersilahkan.

Subhanallah, 5 bulan nggak ketemu tapi dia masih secantik ini

“jadi gimana Idz, apa kamu berhasil menjadi muslim sejati?” kata Aisyah yg akhirnya menghentikan lamunan Faidz saat itu juga. “Insyaallah, aku udah jadi muslim sejati” jawab Faidz dengan tenang. “Alhamdulillah, aku yakin kamu berhasil” kata Aisyah.

Cordoba, 31 desember 2003

Pagi yg cukup cerah, hari ini Faidz seperti terburu-buru meninggalkan hotelnya. Tentu saja dia tidak tidur di apartemen milik Aisyah. Dia pergi ke toko bunga untuk membeli bunga mawar kesukaan Aisyah, dia juga menyempatkan pergi ke Café langganan mereka dulu untuk memesan capucino kesukaan Aisyah. Dia langsung bergegas menuju apartemen milik Aisyah. Setiba disana, Ia langsung masuk kedalam. “Aisyah, ini aku bawain kamu sesuatu.” Kata Faidz. Tapi yg Ia temui hanya Husni, tidak ada Aisyah disitu. “Idz, ada yg mau aku kasih tau ke kamu tentang Aisyah.” Terang Husni. Husni menjelaskan bahwa Aisyah memiliki kanker di sekitar jantungnya semenjak Ia berkuliah di kampus di Cordoba ini, saat ini Aisyah sedang dirawat di UGD karena kankernya semakin parah. Faidz yg mendengar penuturan Husni pun mencoba kuat untuk berdiri dan menarik nafas. “kenapa dia nggak pernah mau cerita sama aku?!” bentak Faidz. “dengar dulu Idz, dia nggak mau bilang ke kamu karena dia nggak mau ngecewain kamu!” tutur Husni.

Faidz tidak memperdulikan Husni, bunga dan gelas capucino yg Ia pegang pun jatuh dari genggamannya. Faidz tak sanggup menahan air matanya, dia berlari sekuat yg Ia mampu menuju rumah sakit. Sesampai disana dia langsung menuju ruangan Aisyah, disana sudah ada Axel yg ternyata juga sudah mengetahui penyakit Aisyah dan membiayai seluruh perawatan Aisyah. “kenapa kamu nggak bilang ke aku Xel?! Kenapa?! Kamu tau kan aku suka dan sayang sama Aisyah dari dulu!” bentak Faidz. “dengerin gue dulu Idz, gue diminta Aisyah untuk ga cerita ke elu! Karena dia gamau lu kecewa! Dia sayang sama lu dari dulu juga Idz.” Jelas Axel dengan nada tinggi. Faidz terdiam, dia menatap Aisyah yg sedang tergolek lemas di ranjang dengan alat bantu pernafasan yg dipasang ke tubuhnya. Sedetik kemudian Ia mendekati Aisyah dan menggenggam tangannya. “Aisyah? Ini aku Faidz.” Kata Faidz sambil meneteskan air matanya. “hai Idz, sekarang kamu tau kenapa alasannya aku menyuruh kamu menjadi muslim sejati kan? Aku mau kamu jadi suami aku Idz tapi itu semua nggak mungkin. Maka dari itu aku cuma ingin kamu menjadi muslim sejati dan Imam sholeh untuk calon istrimu kelak.” Jelas Aisyah yg mencopot kerudungnya. “kerudung ini sebagai tanda seorang muslimah juga sebagai penutup kepalaku, karena kemoterapi yg aku jalani buat rambut aku rontok semua, aku nggak mau tampil di depan kamu dan Allah dengan tampilan yg menjijikan” tutur Aisyah dengan senyum yg indah dan air mata yg membanjiri pipinya. “Tapi Aisyah, aku hanya ingin kamu yg menjadi makmum aku kelak.” Kata Faidz dengan perasaan menyesal yg sangat mendalam.
“Faidz, berjanjilah sama aku. Cintailah seseorang dengan kasih sayangmu dan jangan mencintai seseorang karena hawa nafsumu.” Pinta Aisyah. “iya aku berjanji sama kamu, tapi aku nggak akan pernah mencintai siapapun kecuali kamu.” Kata Faidz meyakinkan. Aisyah tersenyum, mungkin itu adalah senyuman yg paling indah yg pernah Ia tunjukkan semasa hidupnya, nafasnya terhenti, jantungnya berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir. Aisyah sudah pergi, seorang jiwa muslimah yg begitu gagah hingga meluluhkan hati seorang Faidz.

Indonesia, 01 januari 2004
Aisyah sudah dikebumikan ke kampung halamannya dengan bantuan Axel, Faidz pun ikut serta dalam pemakaman sederhana Aisyah. “Aisyah, selamat pergi semoga Allah menerima amalanmu yg begitu banyak di dunia ini. Semoga kita dipertemukan suatu saat nanti di Surga Allah. Aku pasti akan menepati janjiku.” Kata Faidz sambil memegang nisan yg bertuliskan Almh. Aisyah.

NB : Admin J (maaf kalo cerpennya jelek ya :3)

No comments:

Post a Comment

Hi! We need your comment here