Hai guys, kali ini gue bakalan bikin cerpen yg berbeda dari
biasanya (biasanya kan tentang jomblo, kan?). Oh iya cerpen ini request dari
sahabat gue DN (nama disamarkan). So, salam jomblo dan silahkan membacaa ^^
Cordoba, 21 juli 2003
“hoaaammm, jam berapa sih ini? Matahari kok udah panas
banget” keluh Faidz. Faidz mendapat beasiswa bersekolah di sebuah Universitas
di Cordoba, prestasinya di bidang bahasa sangat menjanjikan dia untuk mendapat
beasiswa hingga wisuda nanti. Seperti biasa, dia mengawali paginya dengan
sholat shubuh. Perbedaan waktu di Cordoba dengan di Indonesia membuatnya agak
bingung membedakan waktu sholat, tapi akhirnya dia bisa membiasakan dirinya. Di
Cordoba Ia tidak sendirian, Ia bersama sahabatnya Aisyah. Aisyah ini mendapat
beasiswa yg sama dengan Faidz, mereka berdua sudah bersahabat sejak di bangku
SMP. Aisyah adalah seorang yatim piatu, tekad dia untuk meneruskan cita-citanya
di Hubungan Internasional sangat kuat, Faidz pun sering membantu dia jika ada
kesulitan yg dia enggak mampu mengatasinya. Selain itu Aisyah sangat kuat
imannya, dia juga sudah mulai berhijab sejak kelas 2 SMA. Dia mengatakan bahwa
seorang muslimah sejati adalah muslimah yg menjaga seluruh auratnya dari lelaki
yg bukan muhrimnya.
“assalamualaikum, Aisyah? Ini gue Faidz. Nanti bareng yuk ke
kampusnya?” kata Faidz dari seberang telfon. “waalaikumsalam, oke. Nanti aku
tunggu di depan café langganan kita ya Idz.” Jawab Aisyah dengan lembut
(bentar, emang ada café disana yak? Capcus deh). Aisyah tiba lebih dulu dari
Faidz, sudah menjadi kebiasaan Faidz yg suka telat dalam hal apapun. “hah, hah,
hah. Maaf ya Aisyah, tadi dompet gue sempat ilang, gataunya ada di tas kuliah
gue.” Kata Faidz sambil terengah-engah. “hahaha, iya nggak apa-apa kok Idz.
Kamu kan emang hobinya telat dan teledor.” Ejek Aisyah yg sedang meminum
capucino kesukaannya. “eh, eh ko gue nggak di pesenin sih? Udah tau gue abis
lari maraton” kata Faidz yg sedang mengelap keringatnya dan menyenderkan
kepalanya ke bangku café. “ih lebay amat, hahaha. Udah aku pesenin kok. Tunggu
aja, jadi seorang Islam itu harus sabar.” Kata Aisya setengah menasehati.
Setelah 15 menit mereka mengobrol, mereka pun langsung
beranjak pergi ke kampus. Di kereta pun mereka melanjutkan perbincangan mereka
dengan canda tawa, sungguh mereka dua sahabat yg tidak mungkin dipisahkan.
Tanpa terasa mereka pun tiba di kampus mereka, Faidz langsung menuju ke
kelasnya begitu juga dengan Aisyah. “cieee yg tadi bareng Aisyah, lu apain tuh
anak orang?” goda Axel, dia juga salah satu murid dari Indonesia yg mendapat
beasiswa di kampus ini. “hah? Ettt, gue gak apa-apain kali. Gue sama dia udah
sahabatan dari SMP. Lu jangan asal nuduh yg enggak-enggak anak edan” ejek
Faidz. “gapake anak edan berapa sih Idz?” keluh Axel. “hahahaha, canda Xel.
Makanya jangan asal ngomong lain kali” kata Faidz sambil merangkul pundak
temannya itu. Faidz dan Axel satu jurusan, jadi hanya mereka berdua di kelas yg
asalnya dari Indonesia. Tapi itu nggak buat mereka jadi merasa dikucilkan.
“bro? kalo lu nggak buru-buru bisa kepepet loh bro” bisik Axel. “maksud lu?
Kepepet Mr. Perkov?” kata Faidz yg setengah berbisik juga. “lu homo? Maksud gue
Aisyah bro, gue tau lu suka sama Aisyah kan? Ngaku aja deh.” Goda Axel. “diem
deh anak edan, kita lagi belajar nih bukan di kantin.” Tukas Faidz. “dibilang
jangan pake anak edan, dasar wedhus” ejek Axel sambil memukul kepala Faidz
dengan buku yg digulungnya. “sakit edan!” kata Faidz sambil meringis. “quiet
please!” bentak Mr. Perkov kepada mereka berdua.
Cordoba, 22 juli 2003
Hari ini adalah hari kelulusan mereka, Aisyah sebagai
mahasiswa teladan di kampus ini diberikan kesempatan untuk berpidato sebelum
acara wisuda dimulai. “Aisyah, lu udah siap emangnya buat pidato?” Tanya Faidz.
“InsyaAllah aku siap Idz” jawab Aisyah dengan senyum. Muka Faidz memerah, dia
tak sanggup melihat senyum Aisyah yg meluluhkan hatinya itu, sesaat Ia salah
tingkah sambil menggaruk kepalanya yg tidak gatal. “yaudah gue samperin si Axel
dulu ya, katanya dia lagi beli minum” kata Faidz sambil melambaikan tangan ke Aisyah. “oh, iya.” Kata Aisyah sambil tersenyum.
Sial, senyumnya Aisyah bikin gue klepek-klepek
“woy! Lagi ngelonjor yak lu?” goda Axel sambil mendorong
pundak Faidz yg membuat lamunannya terhenti (ngelonjor : ngelamun jorok).
“apaansih lu, mana minum gue?” tukas Faidz. “nih, minuman kesukaan lu,
capucino. Bukannya Aisyah juga suka capucino ya?” Tanya Faidz sambil
menyodorkan secangkir capucino. “kan kepo banget sih lu.” Jawab Faidz sambil
memalingkan wajahnya. “eh cepetan, si Aisyah udah naik ke panggung tuh dia mau
pidato kan?” kata Axel. “oh iya, yuk ah” ajak Faidz. Pidato Aisyah pun dimulai,
suasana berlangsung sangat tenang hingga Aisyah menyelesaikan pidatonya.
Tibalah pada acara terakhir, pemberian sertifikat mahasiswa terbaik, Aisyah yg
pertama berjabat tangan dengan kepala dosen di kampus itu. Suasana haru pun
menyelimuti hari itu, tangis bahagia dari orang tua dan mahasiswa yg lulus.
Rasanya ingin hari itu tidak berakhir, setelah penantian panjang mereka
akhirnya mereka bisa lulus dengan nilai yg cukup memuaskan.
Di lantai teratas kampus, Aisyah dan Faidz sedang mengobrol.
“Aisyah? Gu-gue… gue mau ngomong sesuatu sama lu.” Kata Faidz gugup. Dia merasa
sekaranglah saat yg tepat untuk mengutarakan perasaannya. “iya, kamu mau
ngomong apa Idz?” Tanya Aisyah dengan lembut.
Tuhkan, senyumnya ituuuuuu……
“hei Idz, kamu mau ngomong apa ko malah ngeliatin aku aja?”
Tanya Aisyah yg menghentikan gurauan Faidz yg sedari tadi menatapi dirinya. “eh
iya maaf, gini… kita kan kenal udah dari SMP. Terusss…” kata Faidz. “terus
apa?” Tanya Aisyah. “gu-guee… gue suka sama lu, gue mau hubungan kita nggak
sebatas sahabat aja tapi gue mau kenal lu lebih jauh lagi Aisyah.” Jelas Faidz
sambil menahan nafas menunggu jawaban apa yg keuar dari mulut seorang Aisyah.
“maaf Idz, jadilah muslim sejati. Barulah aku mau jadi bagian hidup kamu. Untuk
saat ini aku nggak bisa.” Jawab Aisyah dengan wajah datar dan senyum yg agak
memaksakan. “i-iya gapapa ko, gue janji kalo gue bisa jadi seorang muslim
sejati.” Kata Faidz dengan lantang. Aisyah hanya bisa menatap Faidz sambil
memegang dadanya yg sesak, seperti menahan sakit yg sangat besar.
Viena, 22 desember 2003
Sudah 5 bulan sejak wisuda itu, Faidz yg kini seorang
penulis sudah mulai merubah pola hidupnya. Dia kini lebih mengetahui kapan saja
waktu sholat tanpa harus mencari tahu kemana-mana. Jalan sebagai seorang
penulis dia tempuh karena menurut dia itulah pekerjaan yg tidak begitu
merepotkan, dan cukup ringan untuk dia kerjakan. Setiap selesai sholat fardhu
dia selalu menyempatkan dirinya untuk membaca Al-qur’an. Bahkan di kantornya
pun jika ada waktu senggang dia sudah dipastikan akan membaca Al-qur’an. “sudah
5 bulan Aisyah, apa kabarmu di Cordoba? Insyaallah aku sudah menjadi muslim
sejati seperti yg kau inginkan” kata Faidz kepada dirinya sendiri.
Cordoba, 22 desember 2003
Disebuah apartemen yg cukup bagus, Aisyah tinggal bersama
temannya Husni. “Hai Aisyah, apa kabarmu?” sapa temannya, Husni yg baru saja
pulang dari pasar. “Alhamdulillah aku baik Husni.” Jawab Aisyah. Husni adalah
teman kerja Aisyah di hubungan internasional. Husni adalah seorang muslimah,
dia belajar berhijab dari Aisyah sejak 1 bulan yg lalu. “so Aisyah, bagaimana
kabar lelaki yg pernah kamu bicarakan itu? Faidz kan namanya?” Tanya Husni.
“aku juga enggak tau Ni, tapi mudah-mudahan saja dia enggak apa-apa. Aku juga
yakin dia sudah berubah.” Jawab Aisyah dengan tenang. “hahaha, seyakin itu sama
Faidz. Jangan-jang…” Husni tidak melanjutkan perkataannya, dia melihat Aisyah
terjatuh dari kursinya. “Aisyah, kamu kenapa?! Ayo aku bawa kamu ke klinik!”
ajak Husni dengan panik. “ak-aku gapapa Husni sayang, nanti aku juga sembuh ko”
jawab Aisyah dengan wajah pucat. Aisyah meminta Husni untuk mengambilkan
sesuatu di lemarinya, ternyata itu adalah obat. Husni bingung dan baru pertama
kali Ia melihat temannya itu meminum obat, dia tidak pernah tau Aisyah sakit
apa.
“Ni, tolong jangan kasih tau Faidz ya. Suatu saat nanti dia
pasti datang buat nyari aku.” Pinta Aisyah dengan senyum yg lembut. Husni paham
arti senyumannya itu, itu bukan senyuman bahagia. Tapi senyuman kesedihan.
Cordoba, 30 desember 2003
“Alhamdulillah, aku sampai juga di Cordoba. Aku kangen
banget sama kota ini, disini aku kuliah dan wisuda. Oke, sekarang aku harus
mencari Aisyah. Untung aja aku dapet alamat apartemennya dari Axel.” Kata Faidz
sambil menenteng kopernya. Axel sekarang sudah menjadi pengacara, dia juga
meneruskan perusahaan ayahnya di Cordoba. Tapi berhubung dia sedang di Paris
jadi tidak bisa bertemu dengan Faidz, dia hanya meminta untuk menyampaikan
salamnya kepada Aisyah. Tak begitu lama waktu berselang, akhirnya Faidz sampai
di depan apartemen milik Aisyah. “hhhmmm… kamarnya di lantai 5, nomor 29.
Okedeh, bismillahirrahmanirrahim.” Kata Faidz sambil menaiki tangga, dia lebih
memeilih menaiki tangga daripada lift karena menurutnya itu lebih menyehatkan.
Tok.. Tok… Tok…. Terdengar suara pintu diketuk dari luar. “siapa ya?” Tanya
Aisyah dari dalam. “Assalamualaikum, saya Faidz.” Jawab Faidz. Aisyah pun
langsung membukakan pintu untuknya, Faidz sangat senang bisa bertemu dengan
sahabatnya lagi begitupun Aisyah. “masuk Idz, silahkan duduk maaf agak
berantakan ya” kata Aisyah mempersilahkan.
Subhanallah, 5 bulan nggak ketemu tapi dia masih secantik ini
“jadi gimana Idz, apa kamu berhasil menjadi muslim sejati?”
kata Aisyah yg akhirnya menghentikan lamunan Faidz saat itu juga. “Insyaallah,
aku udah jadi muslim sejati” jawab Faidz dengan tenang. “Alhamdulillah, aku
yakin kamu berhasil” kata Aisyah.
Cordoba, 31 desember 2003
Pagi yg cukup cerah, hari ini Faidz seperti terburu-buru
meninggalkan hotelnya. Tentu saja dia tidak tidur di apartemen milik Aisyah.
Dia pergi ke toko bunga untuk membeli bunga mawar kesukaan Aisyah, dia juga
menyempatkan pergi ke Café langganan mereka dulu untuk memesan capucino
kesukaan Aisyah. Dia langsung bergegas menuju apartemen milik Aisyah. Setiba
disana, Ia langsung masuk kedalam. “Aisyah, ini aku bawain kamu sesuatu.” Kata
Faidz. Tapi yg Ia temui hanya Husni, tidak ada Aisyah disitu. “Idz, ada yg mau
aku kasih tau ke kamu tentang Aisyah.” Terang Husni. Husni menjelaskan bahwa
Aisyah memiliki kanker di sekitar jantungnya semenjak Ia berkuliah di kampus di
Cordoba ini, saat ini Aisyah sedang dirawat di UGD karena kankernya semakin
parah. Faidz yg mendengar penuturan Husni pun mencoba kuat untuk berdiri dan
menarik nafas. “kenapa dia nggak pernah mau cerita sama aku?!” bentak Faidz.
“dengar dulu Idz, dia nggak mau bilang ke kamu karena dia nggak mau ngecewain
kamu!” tutur Husni.
Faidz tidak memperdulikan Husni, bunga dan gelas capucino yg
Ia pegang pun jatuh dari genggamannya. Faidz tak sanggup menahan air matanya,
dia berlari sekuat yg Ia mampu menuju rumah sakit. Sesampai disana dia langsung
menuju ruangan Aisyah, disana sudah ada Axel yg ternyata juga sudah mengetahui penyakit
Aisyah dan membiayai seluruh perawatan Aisyah. “kenapa kamu nggak bilang ke aku
Xel?! Kenapa?! Kamu tau kan aku suka dan sayang sama Aisyah dari dulu!” bentak
Faidz. “dengerin gue dulu Idz, gue diminta Aisyah untuk ga cerita ke elu!
Karena dia gamau lu kecewa! Dia sayang sama lu dari dulu juga Idz.” Jelas Axel
dengan nada tinggi. Faidz terdiam, dia menatap Aisyah yg sedang tergolek lemas
di ranjang dengan alat bantu pernafasan yg dipasang ke tubuhnya. Sedetik
kemudian Ia mendekati Aisyah dan menggenggam tangannya. “Aisyah? Ini aku
Faidz.” Kata Faidz sambil meneteskan air matanya. “hai Idz, sekarang kamu tau
kenapa alasannya aku menyuruh kamu menjadi muslim sejati kan? Aku mau kamu jadi
suami aku Idz tapi itu semua nggak mungkin. Maka dari itu aku cuma ingin kamu
menjadi muslim sejati dan Imam sholeh untuk calon istrimu kelak.” Jelas Aisyah
yg mencopot kerudungnya. “kerudung ini sebagai tanda seorang muslimah juga
sebagai penutup kepalaku, karena kemoterapi yg aku jalani buat rambut aku
rontok semua, aku nggak mau tampil di depan kamu dan Allah dengan tampilan yg
menjijikan” tutur Aisyah dengan senyum yg indah dan air mata yg membanjiri
pipinya. “Tapi Aisyah, aku hanya ingin kamu yg menjadi makmum aku kelak.” Kata
Faidz dengan perasaan menyesal yg sangat mendalam.
“Faidz, berjanjilah sama aku. Cintailah seseorang dengan
kasih sayangmu dan jangan mencintai seseorang karena hawa nafsumu.” Pinta
Aisyah. “iya aku berjanji sama kamu, tapi aku nggak akan pernah mencintai
siapapun kecuali kamu.” Kata Faidz meyakinkan. Aisyah tersenyum, mungkin itu
adalah senyuman yg paling indah yg pernah Ia tunjukkan semasa hidupnya,
nafasnya terhenti, jantungnya berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir.
Aisyah sudah pergi, seorang jiwa muslimah yg begitu gagah hingga meluluhkan
hati seorang Faidz.
Indonesia, 01 januari 2004
Aisyah sudah dikebumikan ke kampung halamannya dengan
bantuan Axel, Faidz pun ikut serta dalam pemakaman sederhana Aisyah. “Aisyah,
selamat pergi semoga Allah menerima amalanmu yg begitu banyak di dunia ini.
Semoga kita dipertemukan suatu saat nanti di Surga Allah. Aku pasti akan
menepati janjiku.” Kata Faidz sambil memegang nisan yg bertuliskan Almh.
Aisyah.
NB : Admin J (maaf kalo cerpennya jelek ya :3)
No comments:
Post a Comment
Hi! We need your comment here